perbedaan kurikulum terindikasi Tradisional dengan kurikulum terindikasi modern


1. Kurikulum tradisional diartikan sebagai semua mata pelajaran yang diberikan dalam    satu Lembaga pendidikan atau  secara sempit dalam suatu mata pelajaran atau sebagai satu himpunan mata pelajaran yang  di perlukan untuk lulusan atau untuk mendapat ijazah dalam satu bidang studi tertentu.
Menurut Nengly and Evaras (1976) : Kurikulum tradisional adalah pengalaman yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolahUntuk menolong para siswa dalam mencapai hasil belajar kepada kemampuan siswa yang paling baik.
Kurikulum modern menurut Alice Mil ( Hendiyat Soetopo, 1982 ) : meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan,  pengetahuan, kecakapan dan sikap orang yang meladeni dan diladeni sekolah yakni  anak didik, masyarakat, dan para pendidik di dalamnya juga termasuk penjaga sekolah, juru tulis, juru rawat sekolah dan pegawai sekolah lainnya yang berhubungan dengan murid.
Kurikulum menurut Teaching on Learning (1956). Kurikulum modern segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruang kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah termasuk pengajaran. Kurikulum   modern meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra kurikuler.
Adapun fungsi kurikulum sebagai berikut : 
1. Kurikulum sebagai program studi, yaitu seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah.
2. Kurikulum sebagai content, yaitu memuat sejumlah data atau informasi yang tertera dalam buku teks atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya proses pembelajaran.
3. Kurikulum sebagai kegiatan berencana, yaitu memuat kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal tersebut dapat diajarkan secara efektif dan efisien.
4. Kurikulum sebagai hasil belajar, yaitu memuat seperangkat tujuan yang utuh untuk mencapai suatu hasil tertentu, tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil yang dimaksud. Dalam makna lain, memuat seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.
5. Kurikulum sebagai reproduksi kultural, yaitu proses transformasi dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat agar dimiliki dan dipahami peserta didik sebagai bagian dari masyarakat tertentu.
6. Kurikulum sebagai pengalaman belajar, yaitu keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
7. Kurikulum sebagai produksi, yaitu seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.

a. Peran pebelajar
Sekolah yang diselenggarkan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu menyelenggarakan kegiatan siswa atau murid yang bersifat dinamis. Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembentukan pribadi murid, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas/sekolah, termasuk di dalamnya lingkungan sekitar yang bersifat non edukatif seperti warung sekolah, pesuruh, kondisi bangunan dan sarana sekolah lainnya, masjid/Gereja d an lain-lain.
Namun, kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap otoriter yang mematikan inisiatif dan kreativitas murid, Kurikulum itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan pembentukan pribadi berdasarkan minat, bakat, kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda. Antara murid yang satu dengan murid yang lain dalam satu kelas. Segala sesuatu yang menyangkut isi kurikulum untuk dilaksanakan di kelas sudah diatur dan ditetapkan oleh pihak instansi atasan, yang bahkan menutup kemungkinan guru mengembangkan kegiatan berdasarkan inisiatif dan krativitasnya sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar. kurikulum modern yang menekankan pada perkembangan individu secara maksimal, akan mencerminkan kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan diselenggarakannya secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang maha Esa.

Oleh karena itu diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Kurikulum harus dirancang  sebagai sejumlah pengalaman edukatif yang menjadi
tanggungjawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik dan terarah serta terorganisir. Sekolah yang dirancang dengan kurikulum seperti itu, memungkinkan kegiatan kelas tidak sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran/pengetahuan yang bersifat intellectualistic, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial maupun sebagai makhluk bermoral.
Murid merupakan potensi kelas yang harus dimanfaatkan guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif. Murid adalah anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan formal, khusus nya berupa sekolah.
Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting artinya bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis. Setiap murid harus memiliki perasaan diterima (membership) terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas.
Kelas merupakan unit  tersendiri yang pengelolaannya secara maksimal harus dilakukan dengan mengikutsertakan murid. Pengelolaan kelas yang berhasil akan menumbuhkan kebanggaan kelas sehingga meningkatkan rasa solidaritas dan keinginan untuk ikut berpartisipasi di kalangan murid di kelas tersebut.

a.      Peran pembelajar
guru mengemban peranan yang penting dalam berhasil atau tidaknya proses pendidikan. Bahkan pandangan mutakhir menyatakan bahwa “ betapapun bagus dan indahnya suatu kurikulum, maka berhasil atau gagalnya kurikulum tersebut pada akhirnya terletak ditangan pribadi guru. peranan guru dalam pembinaan kurikulum, dimana pembinaan kurikulum melibatkan banyak pihak, terutama guru yang bertugas dikelas. Setiap guru mengemban tanggung jawab secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengadministrasian dan perubahan kurikulum. Sejauh mana guru terlibat didalamnya akan turut menentukan keberhasilan pengajaran disekolah.
guru bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum , baik secara keseluruhan maupun tugas sebagai penyampaian bidang studi /matapelajaran sesuai dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran yang telah dirancang dalam kurikulum itu. Guru hendaknya dapat melakukan penyesuaian seperlunya dengan kebutuhan setempat. Karena itu peranannya baik selaku pengajar, pembimbing, manager, maupun selaku ilmuwan dan selaku pribadi perlu dicurahkan sedemikian rupa sehingga kurikulum tersebut berhasil pelaksanaannya dikelas atau disekolah. Tanggung jawab ini menuntut kepada guru agar memahami sebaik mungkin tentang tujuan, isi dan organisasi serta sistem penyampaian , sehingga kualitas dan kuantitas hasil pengajaran yang diberikannya mencapai target yang dikehendaki. guru bertanggung jawab membuat perencanaan mengajar (rencana tahunan, rencana bulanan, rencana permulaan mengajar, dan rencana harian), baik dalam bentuk perencanaan unit maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran. Tugas sebagai penggelola kurikulum sejalan dengan peranan-peranan lainnya, yang sekaligus menunjang pembinaan dan pengembangan kurikulum disekolah.
guru bertanggung jawab membuat perencanaan mengajar (rencana tahunan, rencana bulanan, rencana permulaan mengajar, dan rencana harian), baik dalam bentuk perencanaan unit maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran. Tugas sebagai penggelola kurikulum sejalan dengan peranan-peranan lainnya, yang sekaligus menunjang pembinaan dan pengembangan kurikulum disekolah, Guru selaku komponen pendidikan, mau tidak mau tentu telibat dalam pembaharuan kurikulum yang dilakukan. Jadi guru harus ikut aktif dalam usaha perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum memandang perlu memperoleh berbagai input berupa saran , pengalaman guu yang bersangkutan dalam rangka perubahan kurikulum, umunya dalam langkah pertama dilakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan guna melihat kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan yang ada dari berbagai aspek. Bahkan sejumlah guru yang berpengalaman sering diikut sertakan  dalam panitia pembaharuan kurikulum bersama-sama dengan para pejabat yang berwenang  dan ditunjuk oleh Departemen Pendidikan.
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s