Evaluasi media


Review ahli (Ekspert Review); yaitu
evaluasi di mana ahli yang mengkaji ulang pembelajaran dengan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli ini bisa ahli materi, ahli teknis, perancang atau instruktur.
2. Evaluasi orang per orang (One-To-One Evaluation), yaitu
 wawancara yang dilakukan secara perorangan oleh evaluator terhadap beberapa siswa di mana secara satu persatu siswa tersebut diminta untuk memberikan komentarnya.
  1. Evaluasi kelompok kecil (Small Group), yaitu
evaluasi di mana evaluator mengujicobakan suatu pembelajaran pada suatu kelompok siswa dan mencatat performance dan komentar-komentarnya.
Uji lapangan (Field Test); yaitu evaluasi di mana evaluator mengobservasi pembelajaran yang dicobakan kepada sekelompok siswa tertentu dalam suatu situasi nyata.
Idealnya evaluator dapat melaksanakan review ahli dan evaluasi orang per orang .
Scriven (1991) mendefinisikan evaluasi formatif adalah suatu evaluasi yang biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program pembelajaran tertentu sedang dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih dari sekali dengan tujuan untuk melakukan suatu perbaikan.
Sementara Weston, McAlpine dan Bordonaro (1995) menjelaskan bahwa tujuan evaluasi formatif adalah untuk memastikan tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan untuk melakukan perbaikan (improvement) suatu produk atau program pembelajaran.
 Hal yang senada juga dinyatakan oleh Worthen dan Sanders, (1997). Mereka menyatakan bahwa evaluasi formatif dilakukan untuk memberikan informasi evaluatif yang bermanfaat untuk memperbaiki suatu program.
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informas (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai.
Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.
2. Sumatif
Evaluasi sumatif adalah
 Evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.
3. Countenance evaluation model (Stake)
Evaluasi yang memfokuskan pada program pendidikan untuk mengidentifikasi tahapan proses pendidikan. Model ini sama dengan CIPP dan CSE, dimana ketiganya cenderung komperhensip dan mulai dari proses evaluasi selama tahap perencanaan dari pengembangan program.
Stake mengidentifikasi 3 tahap evaluasi program dan faktor yang mempengaruhinya:
Antecedents Phase
Sebelum program diimlementasikan : kondisi /kejadian apa yang ada sebelum program? Apakah mempengaruhi?

• Transactions
Phase (pelaksanaan program)
Apakah yang terjadi selama pogram dilaksanakan? Sesuai kah dengan rencana program? On task?
• Outcomes Phase ( mengetahui akibat implementasi pada ahir program)
Apakah progam yg terlaksana sesuai dengan yang diharapkan? Klien menunjukan prilaku level yang lebih tinggi dari sebelum program dilaksanakan?
Setiap tahapan dibagi menjadi dua bagian: Diskriptio dan judgement (deskripsi-penilaian)

5. Responsive
Evaluation (Stake)
Model Evaluasi Responsif
Evaluasi adalah untuk memberikan layanan kepada klien, membuat pernyataan komprehensif tentang program apa yang menjadi dan tentang kepuasan dan ketidakpuasan yang tepat memilih orang-orang rasakan terhadap program.

6. CIPP evaluation (Daniel L Stuffle)

Evaluasi berorientasi peningkatan Model Stufflebeam, DL (1971) Education evaluation and decision making. Stufflebeam, DL (1971) Pendidikan evaluasi dan pengambilan keputusan. Itasca, IL: FE Peacock Itasca, IL: FE Peacock
CIPP berorientasi perbaikan.
C ontext: lingkungan di mana program berlangsung (termasuk kondisi institusional, target populasi dan . kebutuhan, kesempatan dan masalah yang mendasari kebutuhan.
I nput: Aku nput: kemampuan sistem (internal dan eksternal sumber daya, strategi dan prosedur alternatif desain)
P rocess: pelaksanaan (identifikasi, memprediksi dan pemantauan untuk potensi
masalah, merekam dan menilai acara acara dan kegiatan)
P roducts: menafsirkan nilai dan manfaat dari hasil (deskripsi dan penilaian dari hasil terkait tujuan dan konteks, masukan dan memproses informasi.
C ontext I nput P roses P roduct Evaluasi konteks: upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yg tdk terpenuhi, populasi dan sampel yg dilayani, tujuan proyek Evaluasi Input: evaluasi terhadap masukan yang mendorong penyelenggaraan program Evaluasi Proses: Siapa, bagaimana dan kapan evaluasi dilaksanakan (evaluasi terhadap proses pelaksanaan program) Evaluasi Product: Evaluasi terhadap hasil pelaksanaan program

7. CSE – UCLA evaluation model (Centre for the study of evalution)
• CSE : Center for the Study of Evaluation
UCLA : University of California in Los Angeles
Needs Assessment Program Planning Formative Evaluation SummativeEvaluation Tahap-tahap evaluasi model CSE-UCLA
Termasuk katagori evaluasi yang komperhensif, hamper sama dengan model CIPP.
Terbagi dalam 5 tahapan: perencanaa, pengembangan, pelaksanaan, hasil dan dampak.

8. DEM (Discrepancy evaluation model) (Provus)
DISCREPANCY MODEL
• Mengidentifikasi adanya kesenjangan dengan cara membandingkan antara kondisi saat ini dengan indikator kinerja (kondisi yang diharapkan)
• Mencari hubungan antara dua variabel atau lebih agar tampak keterkaitan/kecenderungan antara variabel-variabel tersebut
• Mengkontraskan variabel-variabel tersebut agar tampak perbedaan yang signifikan antara variabel-variabel yang memiliki masalah yang berarti

Model Kirkpatrick
Kirkpatrick, DL (1994). Kirkpatrick, DL (1994). Evaluating training programs: The four levels. Mengevaluasi program pelatihan: The empat tingkat. San Francisco: Berrett-Koehler San Francisco: Berrett-Koehler
. Evaluasi mengukur reaksi reaksi atau kepuasan dari para peserta dalam program.
Evaluasi belajar didefinisikan sebagai sejauh mana peserta mengubah sikap, meningkatkan pengetahuan, dan / atau meningkatkan keterampilan . Evaluasi perilaku didefinisikan sebagai sejauh mana perubahan perilaku terjadi sebagai akibat dari keikutsertaan dalam pelatihan.
Hasil evaluasi didefinisikan sebagai hasil akhir yang terjadi karena peserta menghadiri program seperti peningkatan produksi, peningkatan kualitas, penurunan biaya, mengurangi frekuensi atau keparahan kecelakaan, peningkatan penjualan, penurunan omzet, dan keuntungan yang lebih tinggi.
Apa yang Dievaluasi
Pertanyaan pokok yang diajukan apabila orang melakukan evaluasi terhadap media pembelajaran adalah apa yang harus dievaluasi? Pertanyaan ini mengharuskan setiap evaluator untuk melihat kembali fungsi dan prinsip penggunaan media. Mengevaluasi penggunaan media berarti mengkonfrontortir (melihat) kembali antara fungsi dan prinsip dengan hasil yang dicapai dalam pembelajaran.
Dalam melakukan evaluasi terhadap media  pembelajaran, aspek psikologis  perlu dipertibangkan. Sebab aspek psikologis inilah yang membuat orang memiliki gaya belajar berbeda. Menurut Michael Gardner (dalam Syukur, 2005: 22) ada tiga gaya belajar yang dimiliki manusia  yakni: gaya belajar visual (belajar dengan cara melihat), gaya belajar audiotorial (belajar dengan cara mendengar) dan gaya belajar kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh).
Dengan demikian, untuk melakukan evaluasi terhadap media pembelajaran, hal-hal tersebut turut  dipertimbangkan. Dibawah ini disebutkan beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan apabila orang melakukan evaluasi terhadap media pembelajaran.
– relevan dengan tujuan pendidikan atau pembelajaran
– persesuain dengan waktu, tempat, alat-alat yang tersedia, dan tugas pendidik,
– persesuaian dengan jenis kegiatan yang tercakup dalam pendidikan,
– menarik perhatian peserta didik,
– maksudnya harus dapat dipahami oleh peserta didik,
– sesuai dengan kecakapan dan pribadi pendidik yang bersangkutan.
– kesesuaian dengan pengalaman atau tingkat belajar yang dirumuskan dalam syllabus
– keaktualan (tidak ketinggalan zaman),
– cakupan isi materi atau pesan yang ingin disampaikan
– skala dan ukuran
– bebas dari bias ras, suku, gender, dll.
Secara singkat, Walker dan  Hess (dalam Arsyad, 2007: 175-176) menyebutkan tiga kriteria utama dalam mereviu media pembelajaran (perangkat lunak) yakni kualitas isi dan tujuan, kualitas instruksional, dan kualitas teknis.  Kualitas isi dan tujuan berkaitan dengan  ketepatan, kepentingan, kelengkapan, keseimbangan, minat/perhatian, keadilan, kesesuaian dengan situasi siswa; Kualitas instruksional berkaitan dengan pemberian kesempatan belajar dan dan bantuan belajar kepada siswa, kualitas memotivasi, fleksibilitas instruksional, hubungan dengan  program pembelajaran lainnya, kualitas sosial interaksi instruksional, kualitas tes dan penilaian, dapat memberi dampak kepada siswa, dapat memberi dampak bagi guru dan pembelajarannya; dan kualitas teknis berkaitan dengan keterbacaan, mudah digunakan, kualitas tampilan/tayangan, kualitas penanganan jawaban, kualitas pengelolaan program dan kualitas pendokumentasian.
E.      Bagaimana Proses Evaluasi terhadap Media?
Evaluasi terhadap media (apa saja) tidak saja dinilai setelah dipakai tetapi juga perlu dibuat sebelum digunakan secara luas. Penilaian ini dimaksudkan agar untuk mengetahui apakah media yang dibuat dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan atau tidak. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat banyak orang yang beranggapan bahwa sekali membuat media, pasti seratus persen ditanggung baik. Anggapan ini mungkin didasarkan pada hipotetsis bahwa media yang dibuat dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. Namun demikian hipotesis tersebut semestinya perlu dibuktikan  dengan mengujicobanya ke sasaran yang dimaksud.
Untuk merealisaikan hal ini ada dua macam bentuk pengujicobaan media yakni evaluasi formsatif dan sumatif. Pertama, evalusia formatif. Evalusia formatif adalah proses mengumpulkan data tentang efektivitas dan efisiensi bahan-bahan pembelajarn (termasuk didalamnya media),  tujuannya dalah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Data-data tersebut dimaksud untuk memperbaiki dan menyempurnakan  media yang  bersangkutan  lebih efektif dan lebih efisien. Kedua, evaluasi sumatif. Dalam bentuk finalnya, setelah diperbaiki dan disempurnakan perlu dikumpulkan data. Hal itu untuk menentukan apakah media yang dibuat patut digunakan dalam situasi-situasi tertentu. Selain itu juga bertujuan untuk menentukan apakah media tersebut benar-benar efektif seperti  yang dilaporkan.
Kegiatan evaluasi dalam pengembangan media pembelajaran akan dititikberatkan pada kegiatan evaluasi formatif. Adanya komponen evaluasi dalam proses pengembangan media pembelajaran membedakan prosedur emperis ini dari pendekatan-pendekatan filosofis dan teoretis. Efektivitas dan efisiensi media yang dikembangkan tidak hanya bersifat teoretis tetapi benar-benar telah dibuktikan.
F.      Tahap Evaluasi
Ada tiga tahap evaluasi formatif yaitu  evaluasi  satu lawan satu (one to one), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan evaluasi lapangan (field evaluation).
2.       Evaluasi Satu lawan Satu (One to One)
Pada tahap ini seorang designer memiilih  beberapa orang siswa (tidak lebih dari tiga orang) yang dapat mewakili populasi target  dari media yang dibuat. Sajikan media tersebut  kepada mereka secara indididual. Kalau media itu didesain untuk belajar mandiri, biarkan siswa mempelajarinya, sementara pengembang (developer) mengamatinya. Kedua orang siswa yang telah dipilih tersebut hendaknya satu orang dari populasi target  yang bermemampuan yang umumnya sedikit di bawah rata-rata dan  satu orang lagi diatas rata-rata. Dengan kata lain,  dalam menentukan kelompok ini variasi kemampuan akademis populasi target dipertimbangkan.
Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1)       Menjelaskan kepada siswa bahwa  designer sedang merancang suatu media baru dan ingin mengetahui bagaimana reaksi siswa terhadap media yang sedang dibuat.
2)   2) Menjelaskan kepada siswa bahwa apabila nanti siswa berbuat salah, hal itu bukanlah karena kekurangan siswa, tetapi kekurangsempurnaan media tersebut, sehingga perlu diperbaiki.
3)   3) Diusahakan agar siswa bersikap rileks  dan bebas mengemukakan pendapatnya tentang media tersebut.
4)   4) Memberikan tes awal (pretest)  untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan pengetahuan siswa terhadap topik yang dimediakan.
5)  Menyajikan media dan mencatat  lamanya waktu yang dibutuhkan, termasuk siswa untuk menyajikan/mempelajari media tersebut, catat pula bagaimana reaksi siswa dan bagian-bagian yang sulit untuk dipahami, apakah contoh-contohnya, penjelasannya, petunjuk-petunjuknya, ataukah yang lain.
6) Memberikan tes (posttest) untuk mengukur keberhasilan media tersebut
7)  Analisis informasi yang terkumpul
Beberapa informasi yang dapat diperoleh melalui kegiatan ini antara lain kesalahan pemilihan kata atau uraian-uraian yang tidak jelas, kesalahan dalam memilih lambang-lambang visual, kurangnya contoh, terlalu banyak atau sedikitnya materi, urutan penyajian yang keliru, pertanyaan atau petunjuk  kurang jelas, tujuan tak sesuai dengan materi, dan sebagainya.
Jumlah dua orang untuk kegiatan ini adalah jumlah minimal. Setelah selesai, dapat dicobakan kepada beberapa orang siswa yang lain dengan prosedur yang sama.Selain itu dapat juga dicobakan kepada ahli bidang studi (content expert). Mereka seringkali memberikan umpan balik (feedback) yang bermanfaat. Atas dasar atau informasi dari kegiatan-kegiatan tersebut akhirnya revisi media dilakukan sebelum dicobakan.
2. Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation)
Pada tahap ini media perlu dicobakan kepada 10-12 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Jumlah 10 merupakan jumlah minimal, sebab kalau kurang dari jumlah tersebut  data  yang diperoleh kurang dapat menggambarkan populasi target. Sabaliknya jika lebih dari 12,  data atau informasi melebihi yang diperlukan, akbibatnya kurang bermanfaat untuk dianalisis dalam kelompok kecil.
Siswa yang dipilih dalam kegiatan ini hendaknya mencerminkan karakteristik populasi.Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswa-siswa yang kurang pandai, sedang, dan pandai, laki-laki dan perempuan, berbagai usia dan latar belakang.
Prosedur yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1)   Designer bahwa media tersebut berada pada tahap  formatif  dan memerlukan umpan balik (feedback) untuk menyempurnakannya.
2)   Memberikan tes awal (pretest) untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang topik yang disediakan. Sajikan media atau meminta kepada siswa untuk mempelajari media tersebut.
3)    Designer mencatat waktu yang diperlukan dan semua bentuk umpan balik (feedback) baik langsung maupun tak langsung selama penyajian media.
4)       Memberikan tes (posttest) untuk  mengetahui sejauh mana tujuan dapat dicapai
5)       Memberikan atau membagikan kuesioner dan meminta siswa untuk mengisinya. Apabila memungkinkan, adakan diskusi yang  mendalam dengan beberapa siswa. Beberapa pertanyan yang perlu didiskusikan antar lain:  (a) menarik tidaknya media tersebut, apa sebabnya, (b) mengerti tidaknya siswa akan pesan yang disampaikan, (c) konsistensi tujuan dan meteri program, cukup tidaknya latihan dan contoh yang diberikan. Apabila pertanyan tersebut telah ditanyakan dalam kuesioner, informasi yang lebih detail dan jauh dapat dicari lewat diskusi.
6)       Menganalisa data yang terkumpul. Atas dasar ini umpan balik  semua ini, media dapat dilakukan penyempurnaan.
3. Evaluasi Lapangan (Field Evaluation)
Evaluasi lapangan adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan. Evaluasi lapangan diusahakan situasinya semirip mungkin dengan situasi sebenarnya. Setelah melalui dua tahap evaluasi di atas tentulah media yang dibuat sudah mendekatki kesempurnaan. Namun dengan hal itu masih harus dibuktikan. Melalui evaluasi lapangan inilah, kebolehan media yang kita buat itu diuji. Dalam melakukan evaluasi lapangan seorang designer memilih sekitar 30 orang siswa sambil memperhatikan beragam karakteristik seperti kepandaian, kelas sosial, latar belakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dsbnya sesuai dengan karakteristik sasaran.
Satu hal yang perlu dihindari baik untuk dua tahap evaluasi terdahulu  dan terutama untuk evaluasi lapangan  adalah apa yang disebut “efek halo”  (hallo effect). Situasi seperti ini  muncul apabila media dicobakan pada kelompok responden yang salah. Maksudnya kita dapat membuat program film bingkai atau transparansi OHP  dan film  kepada siswa-siswa yang belum pernah memperoleh sajian dengan transparansi atau melihat film. Pada situasi seperti ini, informasi yang diperoleh banyak dipengaruhi oleh sifat kebaruan tersebut sehingga kurang dapat dipercaya.
Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut:
1) Mula-mula designer memilih siwa-siwa yang benar-benar mewakili populasi target, kira-kira 30 orang siswa. Usahakan agar mereka mewakili berbagai tingkat kemampuan dan ketramnpiulan siswa yang ada. Tes kemampuan awal (pretest) perlu dilakukan jika karakteristik siswa belum diketahui. Atas dasar itu pemilihan siswa dilakukan. Akan tetapi, jika designer  benar-benar mengenal  siswa-siswa yang akan dipakai dalam uji coba, maka tes  itu tidak pelu dilakukan. 
2)  Designer menjelaskan  kepada siswa maksud uji lapangan tersebut dan apa yang  harapkan designer pada akhir kegiatan. Pada umumnya siswa tak terbiasa untuk mengkritik bahan-bahan atau media yang diberikan. Hal itu karena siswa beranggapan sudah benar dan efektif. Usahakan siswa bersikap rileks dan berani mengupayakan penilaian. Jauhkan sedapat mungkin perasaan bahwa uji coba menguji kemampuan siswa.
3)  Memberikan tes awal untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan keteramnpilan siswa terhdap topik yang dimediakan.
4)  Menyajikan media tersebut kepada siswa. Bentuk penyajiannya tentu sesuai dengan rencana pembuatannya; untuk prestasi kelompok  besar, untuk kelompok kecil atau belajar mandiri.
5)  Designer mencatat semua respon yang  muncul dari sisiwa selama kajian. Begitu pula, waktu yang diperlukan.
6)  Berikan tes untuk mengukur seberapa jauh pencapaian hasil  belajar siswa  setelah sajian media tersebut. Hasil tes ini (posttest) dibandingkan dengan hasil tes pertama (pretest) akan menunjukan seberapa efektif dan efisien dari media yang dibuat.
7)  Memberikan kuesioner untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa terhadap media tersebut dan sajian yang diterimanya.
8)  Designer meringkas dan menganalisis data-data yang telah diperoleh dengan kegiatan-kegiatan tadi. Hal ini meliputi kemampuan awal, skor test  awal dan tes akhir, waktu yag diperlukan, perbaikan bagian-bagian yang sulit, dan pengayaan yang diperlukan, kecepatan sajian dan sebagainya.
Setelah menempuh ketiga tahap ini dapatlah dipastikan kebenaran efektivitas dan efisiensi media yang kita buat.
Ketiga tahap penilaian tersebut di atas dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Bagan Prosedur Evaluasi Media
G.     Penutup  dan Kesimpulan 
Sebuah media yang telah dirancang  perlu dilakukan evaluasi seperlunya, termasuk media yang dirancang oleh seorang ahli designer. Sebab sebuah media yang dihasilkan oleh seorang ahli dalam bidang media tidak secara otomatis bersifat efektif dan efisien untuk menyampaikan pesan kepada pemakai media (siswa). Kehebatan seorang  perancang media tidak hanya terletak pada kemahirannya merancang sebuah mediaa tetapi juga keuletannya melewati tahap-tahap atau proses evaluasi. Dan dalam melewati proses/tahap-tahap evaluasi tersebut seorang perancang media niscaya berhubungan dengan orang lain, baik secara pribadi (siswa/ahli lain) maupun kelompok (kecil dan besar).
Melalui proses itulah sebuah media layak digunakan/dipakai kendatipun dalam kurun waktu tertentu, media tersebut masih bisa dievalusi kembali, hal itu tergantung kepada karakyteristik dan latar belakang para pengguna media tersebut.
Daftar Pustaka
 Arsyad, Azhar (2007). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Heinich, R., Molenda, M., Rusel, J.D., Smaldino, S.E ( 2002). Instructional Media and Technology for Learning. Epper Saddle River, NJ: Pearson Education, Inc.
Punadji, Setyosari & Sihkabuden (2005). Media Pembelajaran. Malang: Elang
Mas
Sadiman, dkk. (2007). Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatan (edisi pertama, cetakan ke-10). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Syukur, NC Fatah (2005). Teknologi Pendidikan. Semarang: RaSAIL (Ranah
Ilmu-Ilmu Sosial dan Agama).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s