Deskripsi secara hirarkis aspek-aspek disetiap domain menurut B.S.BLOOM.dkk


1.      Domain kognitif
a.       Pengetahuan (Knowledge)

Meliputi akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan, yang bisa digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk mengingat kembali. Hal itu dapat meliputi metode, kaidah, prinsip, dan fakta. Contoh untuk tujuan instruksional khusus dapat dirumuskan sebagai berikut. Siswa akan mampu memberikan rumus luas lingkaran; siswa akan mampu menunjukkan bagaimana benua Afrika dibagi ke dalam koloni-koloni.

b.       Pemahaman (Comprehension)

Meliputi kemampuan untuk menangkap arti dari mata pelajaran yang dipelajari. Kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan. Misalnya, siswa akan mampu untuk menguaraikan dengan kata-katanya sendiri materi cerpen mata pelajaran Bahasa Indonesia.

c.        Penerapan (Aplication)

Meliputi kemampuan untuk mencrapkan suatu kaidah atau teori dan teknik menyelesaikan masalah kehidupan yang nyata pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru. Ini meliputi penerapan dalam hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip, dan teori. Misalnya, menerapkan konsep dan prinsip dalani situasi baru; nienerapkan htikiini daii teori pada situasi yang praktis: menyelesaikan masalah matematika: mendemonstrasikan penggunaan metode atau prosedur yang benar. Contoh: dengan menggunakan pengetahuan tentang hubungan antara temperatur dan tekanan, siswa disuruh menerangkan mengapa sebuah balon menjadi lebih besar pada hari yang panas daripada hari yang dingin; siswa akan mampu menghitung jumlah liter cat yang dibutuhkan untuk suatu ruang dan berapa besar biaya yang akan dikeluarkan. Data mengenai luas ruang, harga cat per kaleng yang berisi 2 liter disajikan. Hasil belajar dalam bidang ini memerlukan pengertian yang lebih tinggi daripada pemahaman. b. Pemahaman (Comprehension)

Meliputi kemampuan untuk menangkap arti dari mata pelajaran yang dipelajari. Kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan. Misalnya, siswa akan mampu untuk menguaraikan dengan kata-katanya sendiri materi cerpen mata pelajaran Bahasa Indonesia.

d.       Analisis (Analysis)

Meliputi kemampuan untuk memilah bahan ke dalam bagian-bagian atau menyelesaikan sesuatu yang kompleks ke bagian yang lebih sederhana sehingga struk dalam bagian-bagian atau menyelesaikan sesuatu yang kompleks ke bagian yang lebih sederhana sehingga struktur organisasi dapat dimengerti. Misalnya, mengidentifikasi bagian-bagian; menganalisis hubungan antara bagian; mengenal ptinsip-prinsip organisasi yang terlibat; membedakan antara fakta dan kesimpulan; menilai relevansi data. Contoh: siswa mampu mengidentifikasi bagian dari suatu kalimat. Hasil belajar di sini mewakili tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada pemahaman dan penerapan, karena klasifikasi analisis ini mernerlukan isi dan bentuk struktur bahan.

e.       Sintesis (Shyntetis)

Meliputi kemampuan untuk meletakkan bagian bersama-sama ke dalam bentuk keseluruhan yang baru. Bagian-bagian ini dihubungkan satu sama lain sehingga tercipta suatu bentuk baru. Misalnya, suatu perencanaan dari suatu proyek (proposal penelitian). Hasil belajar dalam klasifikasi sintesis ini adalah penekanan pada kreativitas, dengan penekanan utama pada rumusan pola-pola baru atau struktur.

f.        Evaluasi (Evaluation)

Meliputi kemampuan untuk mempertimbangkan nilai bersama dengan pertanggungjawaban berdasarkan kriteria tertentu. Ini meliputi kriteria internal dan eksternal. Kemampuan ini dinyatakan dalarn memberikan penilaian terhadap sesuatu, seperti pengguguran kandungan berdasarkan nilai moralitas. Hasil belajar dari klasifikasi evaluasi ini adalah yang paling tinggi dalarn hierarki kognitif, karena berisi unsur-unsur dari sernua kategodri-kategori yang lain, ditambah kesadaran akan nilai pertimbangan yang berdasarkan kriteria yang betul-betul jelas.

Sumber: Sri Esti Wuryani djiwandono. 2002. Psikologi Pendidikan. Edisi revisi. Jakarta: PT. Grasindo (Halaman 211-216).
Adapun sumber lain yaitu:
a.        Pengetahuan (Knowledge)

Meliputi kemampuan mengetahui dan Mengingat, menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasikan, mendefinisikan, mencocokkan, menamai, dan menggambarkan.

b.       Pemahaman (Comprehension)

Meliputi kemampuan menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasikan, menguraikan (dengan kata-kata sendiri), menulis ulang (dengan kalimat sendiri), meringkas, membedakan (di antara dua), mempertahankan, menyimpulkan, berpendapat,dan menjelaskan.

c.        Penerapan ide(Application)

Meliputi kemampuan mengoperasikan, menghasilkan mengubah, mengatasi, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.

d.      d. Kemampuan Menguraikan(Analysis)

Meliputi kemampuan menguraikan satuan menjadi unit-unit terpisah, membagi satuan menjadi bagian-bagian, membedakan antara dua yang sama, dan memilih.

e.        Unifikasi (Synthesis)

Meliputi kemampuan merancang, merumuskan, mengorganisasikan, mengkompilasikan, mengkomposisikan, membuat hipotesis, dan merencanakan.

f.        Menilai (Evaluation)

Meliputi kemapuan mengkritisi, menginterpretasi, dan membedakan penilaian.

Sumber: Noor Fuad dan Gofur Ahmad. 2009. Integrated HRD (human Resources development). Jakarta: PT. Grasindo (Halaman 27-28)
Adapun sumber lain yaitu:
a.        Pengetahuan

Tingkah laku dalam tingkat pengtahuan ini mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalarn ingatan berupa fakta, kaidah dan prinsip sena metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan dapat dipanggil disaat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pengetahuan adalah menyebutkan, mengidentifikasikan, menjodohkan, menyatakan, menunjukkan, memilih, menggarisbawahi, mendefinisikan dan sebagainya.

b.       Pemahaman

Tingkah laku pada tingkat pemahaman ini mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain, membuat perkiraan tentang kecenderungan yang tampak dalam data tertentu. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan pengetahuan. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pemahaman adalah menerangkan, menjelaskan, menguraikan. merumuskan, meramalkan, memperkirakan. mengubah. merangkum, meringkas, mengembangkan. menggantikan dan sebagainya.

c.        Penerapan

Tingkah laku pada tingkat penerapan mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru. Kemampuan ini dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru. Kernampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan pemahaman, karena dituntut kemampuan menerapkan. Kata keria operasional karena dituntut kemampuan menerapkan. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat penerapan adalah menghitung, menghubungkan, menemukan, menyediakan, menghasilkan, menyikapi, menyesuaikan dan sebagainya.

d.      d. Analisis

Tingkah laku pada tingkat analisis ini mencakup kemampuan untuk menerima suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan penerapan, karena tingkah laku pada tingkat analisis ini mencakup kemampuan untuk menerima suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan penerapan, karena sekaligus harus ditangkap adanya kesesuaian dan perbedaan antara sejumlah hal. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat analisis adalah memisahkan, membagi, menunjukkan hubungan antara, menerima dan sebagainya.

e.       Sintesis

Tingkah laku pada tingkat sintesis ini mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga tercipta suatu bentuk baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan analisis, karena dituntut menemukan pola dan struktur organisasi. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat sintesis ini adalah mengkombinasikan, mengatur, menciptakan, merangkaikan, membuatkan, mengarang, menyusun kembali, menggolongkan dan sebagainya.

f.       Evaluasi

Tingkah laku pada tingkat evaluasi ini mencakup kemampuan laku pada tingkat evaluasi ini mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan suatu kriteria tertentu. Kemampuan ini merupakan tingkatan tertinggi, karena mencakup semua kemampuan dari tingkat pengetahuan sampai dengan tingkat sintesis. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku evaluasi adalah membahas. menilai, membedakan, menolak,, mendukung, menafsir, memperbandingkan, memberikan alasan, menyimpulkan, membuktikan, memilih antara dan sebagainya.

Sumber: Drs. Ign. Masidjo. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius (Halaman 92-97).
2.      Domain afektif
a.       Penerimaan (Receiving)

Kesediaan siswa untuk memperhatikan rangsangan atau stimuli (kegiatan kelas, musik, buku ajar). Misalnya, mendengarkan dengan sungguh-sungguh; menunjukkan kesadaran akan pentingnya belajar: menunjukkan sensitivitas terhadap kebutuhan manusia dan masalah sosial; menerima perbedaan ras dan kebudayaan; aktif terhadap kegiatan kelas. Hasil belajar dalam klasifikasi ini masih dalam bentuk pasif. Contoh: saya bersedia untuk membantu para pengungsi di Sampit. Penerimaan mewakili tingkat yang paling rendah dari hasil belajar dalam domain afektif.

b.       partisipasi (Responding)

Aktif berpartipasi dalam suatu kegiatan. Pada tingkat ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu kegiatan, tetapi juga bereaksi terhadap sesuatu dengan beberapa cara. Hasil belajar dalam domain partisipasi ini menekankan persetujuan tanpa protes dalam rneresrmns. Misalnya, membaca dengan suara nyaring bacaan yang ditunjuk; menunjukkan minat terhadap buku yang ditawarkan; berpartisipasi dalam diskusi kelas; sebagai sukarelawan dalam tugas khusus; menunjukkan minat dalam mata pelajaran; mengikuti aturan-aturan sekolah. Dalam TIK dirumuskan: siswa berpartisipasi dalam kegiatan ulang tahun sekolah dengan mengambil bagian dalam bermain drama.

c.        Penilaian atau penentuan sikap (Valuing)

Meliputi kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Kemampuan itu dinyatakan dalam suatu tindakan atau perkataan, seperti menghargai peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, menunjukan perhatian terhadap kesejahterahan orang lain, menunjukkan komitmen terhadap perbaikan sosial. Basil belajar dari domain penilaian ini adalah tingkah laku yang konsisten dan cukup stabil dengan sikap batin, seperti mengungkapkan pendapat positif tentang pameran lukisan anak-anak, atau ceramah tentang pendidikan seks atau narkoba. Pendapat ini akan diulang jika ada kesempatan lain. Contoh: “Saya percaya pentingnya tanggung jawab sebagai warganegara dalam masyarakat kita”. Ucapan ini dinyatakan dalam tindakan seperti ikut ambil bagian sebagai panitia pemilihan umum dan membayar pajak.

d.      Organisasi (Organization).
e.        Pembentukan pola hidup (Characterization by a value or a value complex)
Sumber: Sri Esti Wuryani djiwandono. 2002. Psikologi Pendidikan. Edisi revisi. Jakarta: PT. Grasindo (Halaman 211-216)
Adapun sumber lain yaitu:
a.        Penerimaan (Receiving)

Meliputi kemampuan mempercayai (sesuatu atau seseorang untuk dikub), memilih (seseorang atau sesuatu untuk diikuti), mengikuti, bertanya (untuk diikuti), dan mengalokasikan.

b.      Tanggapan (Responding)

Meliputi kemampuan mengkonfirmasi, memberi jawaban, membaca (pesan-pesan), membantu, melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan.

c.       Penanaman Nilai (Valuing)

Meliputi kemampuan menginisiasi, mengundang (orang untuk teribat), teribat, mengusulkan, dan melakukan.

d.      Pengorganisasian (Organization)

Meliputi kemampuan memverifikasi nilai-nilai, menetapkan beberapa pilihan nilai, mensintesiskan (antarnilai), mengintegrasikan (antarnilai), menghubungkan (antarnilai), mempengaruhi (kehidupan dengan nilai-nilai).

e.        Karakteristik Kehidupan (Characterization)

Meliputi kemampuan menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup (worldview), serta mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini.

Sumber: Noor Fuad dan Gofur Ahmad. 2009. Integrated HRD (human Resources dvelopment). Jakarta: PT. Grasindo (Halaman 27-28).
Adapun sumber lain yaitu:
a.        Penerimaan

Tingkah laku dalam tingkat penerimaan ini mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu. Kesediaan ini dinyatakan dalam memperhatikan sesuatu, namun perhatian ini pasif. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat penerimaan adalah menyatakan, menjawab, memberi, melanjutkan, mengikuti, menanyakan, dan sebagainya.

b.       Partisipasi

Tingkah laku pada tingkat partisipasi mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan ini dinyatakan dalam memberikan reaksi terhadap rangsangan yang disajikan. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat partisipasi adalah menolong, membantu, menyambut, menawarkan diri, melaporkan, menyelesaikan, membawakan. menyumbangkan, menampilkan, mendatangi, dan sebagainya.

c.       Penilaian atau penentuan sikap

Tingkah laku pada tingkat penilaian atau penentuan sikap ini mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Oleh karena itu, perlu mulai dibentuk sikap menerima, menolak atau mengabaikan yang sesuai dan konsisten dengan sikap batinnya. Kemampuan ini dinyatakan dalam perkataan, perbuatan dan perlu dibina satunya perkataan dan perbuatan. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat penilaian atau penentuan sikap adalah ikut serta melaksanakan, mengusulkan, membenarkan, mengambil prakarsa, membela, mengajak. menyatakan pendapat, mengundang, menentukan, dan sebagainya.

d.       Organisasi 

Tingkah laku pada tingkat organisasi ini mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman hidup. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana yang pokok dan mana yang tidak begitu penting. Kemampuan ini dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai, seperti menyusun rencana kerja masa depan atas dasar kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat organisasi adalah melengkapi, mengatur, menyusun, menyamakan, mengintegrasikan, menyempurnakan, menyusun, menyamakan, menyempurnakan, menghubungkan, merumuskan, mengubah dan sebagainya.

e.       Pembentukan pola hidup

Tingkah laku pada tingkat pembentukan pola hidup ini mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupan sendiri. Kemampuan ini dinyatakan dalam pengaturan hidup di berbagai bidang. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat pembentukan pola hidup adalah mempertimbangkan, memperlihatkan, melayani, menyatakan, mempraktikkan, mempersoalkan, dan sebagainya.

Sumber: Drs. Ign. Masidjo. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius (Halaman 92-97).
3.      Domain psikomotorik
a.       Persepsi

Tingkah laku dalam tingkat persepsi ini mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan. Kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi yang menunjukkan kesadaran akan hadirnya rangsangan dan pembedaan antara rangsangan-rangsangan yang ada. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat persepsi adalah menyisihkan, mempersiapkan, dan sebagainya.

b.      Kesiapan

Tingkah laku pada tingkat kesiapan ini mencakup kemampuan menempatkan dirinya dalam keadaan dalam memulai sesuatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani atau mental sebelum suatu kegiatan dilakukan. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat kesiapan adalah mengawali, memprakarsai, menanggapi, memulai, mempertunjukkan. bereaksi, dan sebagainya.

c.        Gerakan terbimbing

Tingkah laku pada tingkatakan terbimbing ini mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik sesuai dengan contoh yang diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota tubuh menurut contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat gerakan terbimbing adalah mengerjakan, mencoba, memasang, mengikuti, membuat, memainkan, dan sebagainya.

d.       Gerakan terbiasa

Tingkah laku pada tingkat gerakan terbiasa ini mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena sudah dilatih sepenuhnya. tanpa memperlihatkan lagi contoh yang diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota-anggota tubuh, sesuai dengan prosedur yang tepat. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat gerakan terbiasa adalah membangun, melaksanakan, menggunakan, menangani. menyusun, memperbaiki, dan sebagainya.

e.       Gerakan kompleks

Tingkah laku pada tingkat gerakan kompleks ini mencakup kemampuan untuk melaksanakan keterampilan. yang terdiri atas beberapa komponen dengan lancar, tepat dan etisien. Kemampuan ini dinyatakan dalam suatu rangkaian perbuatan yang beruntun dan menggabungkan beberapa sub atau bagian keterampilan menjadi satu kesatuan menghubungkan beberapa sub dari bagian keterampilan menjadi satu kesatuan gerak-gerik yang teratur. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat gerakan kompleks adalah membangun, melaksanakan, menggunakan, dan sebagainya.

f.       Penyesuaian pola gerakan

Tingkah laku pada tingkat penyesuaian pola gerakan ini mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan persyaratan khusus yang berlaku. Kemampuan ini dinyatakan dalam menunjukkan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku pada tingkat penyesuaian pola gerakan adalah mengatur kembali, mengubah, membuat variasi, mengadaptasikan, dan sebagainya.

g.       Kreativitas

Tingkah laku pada tingkat kreativitas ini mencakup kemampuan untuk melahirkan pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Kemampuan ini dinyatakan dengan menunjukkan ketrampilan tinggi dan berani berfikir kreatif, sehingga dicapai kesempurnaan keterampilan ini. Kata kerja operasional yang merupakan tingkah laku tingkat kreativitas adalah mendesain, merencanakan, merancang, dan sebagainya.

Sumber: Drs. Ign. Masidjo. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius (Halaman 92-97).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s