Kurikulum Model Terbalik HildaTaba


Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Taba berbeda dengan cara lazim yang bersifat deduktif karena caranya yang bersifat induktif. Itulah sebabnya model ini disebut “model terbalik”. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model taba ini, yaitu :
      1). Mengadakan unit-unit eksperimen kerjasama guru-guru. Didalam unit eksperimen ini diadakan studi yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada delapan langkah kegiatan dalam unit eksperimen ini : (1) mendiagnosis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan khusus, (3) memilih isi, (4) mengorganisasi isi, (5) memilih pengalaman belajar, (6) mengorganisasi pengalaman belajar, (7) mengevaluasi, (8) melihat sekuens dan keseimbangan.
2). Menguji unit eksperimen. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya untuk kelas-kelas atau tempat lain.
3).  Mengdakan revisi dan konsolidasi terhadap hasil unit eksperimen
4).  Menyusun kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual dan emosional.
5). Menyusun kurikulum, yang dikembangkan secara menyeluruh dan mendiseminasikan (menerapkan kurikulum pada daerah atau sekolah yang lebih luas).

Jadi kurikulum ini sangat cocok digunakan di Indonesa karena dalam pemgembangan Model Terbalik Hilda Taba realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan antara teori dan praktek.
Dan juga pengembangan model pendidikan di Indonesia juga menggunakan model yaitu model oliva karena model ini sangat sederhana, komprehensif dan sistematik dalam proses ini dapat menempuh 12 tahap yang akan mengembangkan tahap kegiatan yaitu :
  1. Merumuskan filsafat sasaran, visi dan misi lembaga pendidikan dengan dasar utama kebutuhan siswa
  2. Studi kebutuhan lingkungan masyarakat dimana sekolah berada.
  3. Merumuskan tujuan umum yang didasarkan pada kebutuhan siswa dan masyarakat.
  4. Menjabarkan tujuan umum menjadi tujuan khusus kurikulum
  5. Mengorganisasikan rancangan dan implementasi kurikulum.
  6. Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum pembelajaran.
  7. Menjabarkan tujuan umum menjadi tujuan khusus pembelajaran.
  8.  Menetapkan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan.
  9.  Melakukan studi tentang kemungkinan bentuk dan jenis penilaian atau evaluasi yang harus dilakukan.
  10.  Implementasi kurikulum.
  11.  Evaluasi thd. pembelajaran.
  12. Evaluasi kurikulum.
Setelah semua tahap ini dari telah selesai, hasilnya akan ulang oleh tim pengarah untuk mendapatkan penyempurnaan, dan jika dinilai telah cukup baik, maka tim pengarah akan menetapkan berlakunya kurikulum tersebut dan memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut. Model kurikulum seperti ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah. Tetapi pada kenyataanya Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s