Makalah Tunarungu


BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Cacat tubuh merupakan suatu keterbatasan yang sangat mengganggu seperti cacat kaki (lumpuh) dan tangan, cacat mata, bisu dan tuli, dan kelainan anggota tubuh yang lain. Hal ini tentu saja menimbulkan respon negative baik dalam diri penderita maupun terhadap dan dari orang lain. Respon ini seolah menciptakan 2 (dua) dunia yang berbeda; yaitu dunia orang ‘normal’ dan dunia ‘cacat’. Tentu saja batasan-batasan yang ada menghasilkan jarak yang cukup jauh untuk terciptanya sebuah hubungan yang harmonis antara keduanya. Seolah dunia orang cacat menempati wadah yang kumuh, kotor dan sudah rusak dan dunia normal menempati tampat yang lebih ‘layak’, bersih, dan terjamin segala-galanya.
Pengkucilan ini merupakan respon negatif dari sebagian orang ‘normal’. Namun sebenarnya apakah ada manusia yang bisa dikatakan ‘normal’ Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang normal. Sebab manusia adalah makhluk yang tidak sempuma, tidak ada sesuatu pun yang sempurna di mata Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Hanya saja sebagian manusia menganggap dirinya normal karena memiliki kelebihan pada dirinya yang bisa dilihat dari luar dengan mata telanjang.
Kaum cacat khsususnya anak-anak masih tetap manusia, hanya saja mereka memiliki keterbatasan yang tingkatannya lebih besar dari sebagian orang yang merasa dirinya normal. Akan tetapi bukan berarti mereka tidak mampu lagi untuk tumbuh dan mendapat predikat sebagai ‘orang normal’, bukan berarti tidak mampu lagi untuk tampil di depan podium menampilkan bakat alami dan seni yang dimilikinya.
Kecacatan tubuh sejak lahir bagi sebagian anak-anak bisa dibilang merupakan suatu hal yang biasa dan wajar, sebab mereka tentunya belum pernah merasakan perbedaan antara tubuh yang ‘lengkap’ dengan yang ‘tidak lengkap’. Mereka akan beranggapan bahwa seperti itulah tubuh mereka dan akan sama dengan teman-teman ‘normal’ mereka. Beda halnya dengan anak yang terlahir normal dan mengalami kecelakaan sehingga menjadi cacat. Anak ini akan benar- benar menyadari bahwa ada yang kurang dari diri mereka setelah tertimpa musibah.
Masyarakat sering beranggapan bahwa apabila seseorang tidak mereaksi terhadap pangilan atau tidak mendengar suara tertentu, maka orang tersebut dinyatakan sebagai tuli. Dalam keadaan sehari-hari, kita juga sering mendengar sebutan terhadap individu yang mengalami ganguan pendengaran dengan istilah-istilah : tunawicara, tuli bisu, cacat dengar, dan yang terakhir, dengan sebutan tunarungu. Pada hakekatnya penyebutan istilah-istilah tersebut tertuju pada salah satu objek belaka, yakni individu yang mengalami ganguan atau hambatan pendengaran.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang kami ajukan adalaah sebagai berikut:
1.         Apakah pengertian anak tunarungu?
2.         Apa saja yang menjadi penyebab ketunarunguan?
3.         Bagaimana klasifikasi ketunarunguan?
4.         Bagaimana Karakteristik Anak Tunarungu?
5.         Apa saja Prinsip Pembelajaran Umum dan Khusus pada Anak Tunarungu?
6.         Bagaimana Pembelajaran Bagi Anak Tunarungu?
C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang kami ajukan di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui Pengertian Anak Tunarungu
2.         Untuk mengetahui penyebab ketunarunguan
3.         Untuk mengetahui klasifikasi Ketunarunguan
4.         Untuk mengetahui karakteristik anak tunarungu
5.     Untuk mengetahui prinsip pembelajaran umum dan khusus pada anak tunarungu.
6.         Untuk mengetahui pembelajaran bagi anak tunarungu…… 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s