Prestasi Non-akademik Kurang Dihargai


Sekolah belum punya tradisi mengakui, menghargai, dan mengembangkan bakat non-akademik siswa. Bahkan, sekolah kerap tak mendukung prestasi itu, seperti bidang kesenian dan olahraga. Oleh karena itu, sekolah didesak mengubah pola pikir, terutama sekolah negeri yang dinilai kurang memiliki model kepemimpinan yang baik.

”Sekolah negeri terlalu kaku memahami aturan. Sifatnya seperti manager yang hanya bisa patuh aturan sehingga tak ada terobosan baru dan keberanian mengambil risiko,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suyanto seusai menemui siswa berprestasi bidang catur di Jakarta, Selasa (3/1).

Menurut Suyanto, bakat siswa dalam bidang non-akademik juga penting. Bahkan, masih banyak ditemui kasus siswa berprestasi non-akademik yang sulit memperoleh izin dari sekolah ketika akan mengikuti ajang-ajang nasional dan internasional.

”Banyak guru dan kepala sekolah yang tidak ramah untuk urusan izin. Perlu pendekatan khusus. Pembinanya harus pintar meyakinkan sekolah,” katanya.

Ketua Komisi Catur Sekolah Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Hendry Jamal, yang menjadi pembina siswa berprestasi bidang catur, berharap pemerintah memberi perhatian sama dengan siswa berprestasi bidang akademik. Banyak siswa mengeluh kerap disuruh memilih sekolah atau catur oleh pihak sekolah.

”Ada juga kasus siswa yang tidak diberi rapor oleh sekolahnya karena tidak punya nilai. Siswa itu harus sering izin karena ikut turnamen catur di dalam dan luar negeri. Sekolah sering susah beri izin, padahal sudah dilampiri surat dari pemerintah daerah,” kata Hendry.

Kemdikbud Akui RSBI Ciptakan Kasta
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Suyanto tak menampik kritikan keras berbagai pihak yang menilai bahwa keberadaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menciptakan kastanisasi di dunia pendidikan. Kritikan ini dilayangkan karena mahalnya biaya masuk sekolah berlabel RSBI, yang hanya mampu dijangkau kalangan mampu.

Namun, menurut Suyanto, kasta yang diciptakan RSBI adalah kasta dari sisi akademik. Hidup kan memang ada kastanya. Di perusahaan kan juga ada kasta, katanya, Selasa (3/1/2011), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Ia menilai, kontroversi yang mewarnai keberadaan RSBI selama ini hanya menyoroti RSBI dari sisi biaya pendidikan yang mahal. Padahal, menurut dia, tidak seluruh RSBI berbiaya mahal. Biaya tinggi, kata Suyanto, hanya terjadi di RSBI yang ada di wilayah DKI Jakarta. Dalam pantauannya, sejumlah daerah seperti Surabaya, Nunukan, dan Sulawesi Selatan memiliki peraturan daerah (Perda) yang mengatur RSBI sehingga terjangkau untuk semua kalangan.

Yang miskin diakomodasi di RSBI 20 persen. Tak salah punya sekolah yang bersifat center of excellent, kata Suyanto.

Dengan semakin menguatnya kritik terhadap RSBI, pemerintah saat ini menahan diri untuk tidak membuka atau memberikan status RSBI baru kepada sekolah-sekolah. Tak hanya itu, peningkatan status RSBI menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) juga dilakukan secara cermat dan hati-hati.

Bahkan, Suyanto mengakui, dari RSBI yang ada saat ini, belum ada yang layak ditingkatkan statusnya menjadi SBI. Kelemahan utama ada di sumber daya gurunya. Semangat pemerintah, guru RSBI itu harus S-2. Tetapi, banyak yang belum memenuhi standar itu maka harus terus didukung, kata Suyanto……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s